HOME
Home » Gunung Batu Daya » Gunung Batu Daya (Bukit Unta)

Gunung Batu Daya (Bukit Unta)

Posted at December 20th, 2016 | Categorised in Gunung Batu Daya

GUNUNG BATU DAYA DILIHAT KEBUN SAWIT PT CUS,KAYONG UTARA,KALIMANTAN BARAT Budi Laksono Panoramio
Gunung Batu Daya adalah gunung yang berada di Ketapang, Kalimantan Barat. Gunung ini adalah sebuah batu raksasa dan bukan seperti gunung pada umumnya yang berteksturkan tanah melainkan seluruhnya adalah batu. Gunung ini berdekatan dengan salah satu aset alam yang berharga lainnya di Kalimantan Barat, yakni Gunung Palung. Dan sama-sama masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).

Gunung Batu Daya lokasi lengkapnya berada di antara perbatasan kecamatan Laor dan kecamatan Sukadana (kab. Ketapang), Simpang Hilir, Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Nama Batu Daya bukan tanpa silsilah atau sejarahnya. Ada mitos yang menceritakan bahwa nama tersebut berasal dari sebuah batu kecil yang membesar sebesar gunung. Tapi itu hanya sekadar mitos dan kepercayaan setempat. Nama “Batu Daya” sendiri menurut penduduk yakni memiliki pengertian batu yang memperdaya. Pasalnya pada lokasi pandang tertentu, jika dilihat dari tempat yang berbeda maka terlihat bentuk yang berbeda pula gunung tersebut. Bila kita berlayar dari Pontianak atau Pulau Karimata, maka bukit batudaya ini tampak menonjol pada gugusan Gunung Palung, karena bentuknya yang kokoh bersegi seperti gantang, yaitu takeran padi.

Namun yang paling populer yakni berbentuk sebuah punggung unta. Oleh sebab itu Batu Daya dijuluki juga dengan “Bukit Unta” atau “Tebing Unta”.

batu daya maps earth

ASAL USUL DAN MITOS BATU DAYA
Dahulu ada sebuah keluarga yang hanya terdiri dari ibu dan anaknya yang masih berumur 3 tahun. Anak itu bernama Daya. Keluarga itu tinggal di sebuah kampung di Kalimantan Barat. Suami ibu itu sudah lama meninggal sehingga ibu itu harus hidup berdua saja dengan anaknya yang masih kecil. Setiap melakukan pekerjaan dan pergi dari rumah, ibu itu selalu membawa anaknya.

Suatu ketika si ibu hendak mencuci pakaian di sungai. Iapun membawa turut serta anaknya. Sesampainya di tepian sungai, ibu itu meletakkan anaknya yang masih kecil di atas sebuah batu yang cukup besar dan atasnya berbentuk datar sehingga bisa untuk duduk dan meletakkan cuciannya yang banyak.

Ibu itu pun disibukkan dengan urusan mencucinya sampai ia lupa untuk memperhatikan anaknya. Anaknyapun lantas memanggil si ibu “Mak…junjung batu!!” lalu ia menjawab “Ya..”, sekali lagi anak itu memanggil “Mak..junjung batu!!” kembali si ibu menjawab “Ya!” hingga beberapa kali anak itu memanggil ibunya namun si ibu sedang sibuk dengan cuciannya. Lama kelamaan suara anak tersebut semakin kecil dan menghilang, barulah si ibu sadar kalau ia benar-benar dipanggil anaknya. Lantas ia menoleh ke belakang dan betapa kagetnya ibu itu ketika melihat batu tempat anaknya duduk telah berubah menjadi batu yang teramat besar bahkan sebesar gunung. Dan anaknya pun tak terlihat batang hidungnya sekalipun. Kemudian gunung itu dijuluki gunung “Batu Daya”.

Penduduk sekitar memiliki kepercayaan bahwa gunung Batu Daya adalah gunung keramat. Oleh sebab itu setiap tahun rutin diadakan ritual untuk mempertahankan budaya kepercayaan tersebut.

CATATAN PEMANJAT TEBING
Bagi para pemanjat tebing atau rock climber nama gunung Batu Daya sudah tidak asing lagi. Si Unta ini menjadi lokasi yang sangat menawan bagi para pemanjat tebing melihat ketinggiannya dan bentuknya. Namun di balik semua itu ternyata tebing unta ini dibilang sangat ekstrim dan bahaya. Tercatat beberapa pemanjat tewas akibat terjatuh saat memanjat.

Tahun 1987 Ekspedisi Wanadri menyelesaikan pemanjatan Tebing Bukit Batudaya dan tahun 1998 Ekspedisi UKL UNPAD kehilangan satu anggotanya, Yanto Martogi Sitanggang yang tewas terjatuh dari Bukit Batudaya. Kemudian pemanjat tebing dari UI juga meninggal akibat terjatuh.

Tahun 2012, Pemanjat tebing asal Jepang Ryosuke Obhu (25) dan Kenichiro Kosaka (24), keduanya juga mencoba memanjat tebing Unta tersebut namun gagal mencapai puncak. Baru pada tahun 2013 mereka berhasil menaklukan ketiga puncak Batu Daya.

GALLERY

TRANSPORTASI
– Transportasi bisa melalui jalur jalan Rasau Jaya (Pontianak) lalu naik speed boat berangkat jam 9 wib (Rp.110.000) selama 3 jam sampai ke Telok Melano, Simpang Hilir.
– Lanjut speed boat dari Telok Melano menuju desa Perawas (desa batu barat) atau desa matan (Rp 60.000).
– Untuk menuju lokasi bisa menggunakan ojek sepeda motor atau menumpang truk pengangkut kayu yang sering menuju ke lokasi tersebut.

Alternatif lain bisa menggunakan pesawat dari Pontianak – Ketapang (Rp 300.000) selama 40 menit. Kemudian dari Ketapang menuju Telok Melano dengan kendaraan roda 4 (Rp 20.000) selama 3 jam.

PESAN-PESAN
Gunung Batu Daya adalah kekayaan alam yang masih belum tereksplorasikan karena berbagai alasan. Untuk itu bagi pemerintah lokal khususnya Kalimantan Barat harus berusaha untuk memajukan kekayaan alam tersebut dan mensejahterakan penduduk lokalnya.

Satu lagi yang menjadi pesan penting bagi pemerintah dan berbagai kalangan yang memiliki andil terhadap daerah tersebut yakni persoalan lahan yang digunduli. Kalimantan tentu bukan berita baru mengenai kebakaran hutan, kegundulan hutan, pembukaan lahan, dan tek-tek bengek lainnya. Pemerintah harus keras terhadap tindak pembukaan dan penggundulan lahan di kawasan tersebut.

pembukaan lahan di kawasan gunung batu daya kalbar-min

INFORMASI LAIN
Nama: Gunung Batu Daya
Nama lain: Bukit Batu Daya, Bukit Unta, Tebing Unta
Ketinggian: 499 mdpl
Lokasi: Ketapang, Kalimantan Barat
Pengelola: Taman Nasional Gunung Palung (TNGP)

REFERENSI
www.stanislausr.wordpress.com
www.sungebanjur.blogspot.co.id
facebook.com/Batudaya.ketapang.kalbar
www.instagram.com/wisata.batudaya/
Budi Laksono Panoramio

4 Comments for Gunung Batu Daya (Bukit Unta)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Related Post to Gunung Batu Daya (Bukit Unta)