HOME
Home » DAFTAR TER- » Top 5 Supervolcano di Indonesia yang Tercatat dalam Sejarah

Top 5 Supervolcano di Indonesia yang Tercatat dalam Sejarah

Posted at January 18th, 2020 | Categorised in DAFTAR TER-

Supervolcano dalam bahasa Indonesia artinya adalah gunung api yang super. Super dalam hal ini dimaknai dengan letusan yang sangat besar dan maha dahsyat. Sebagian besar masyarakat Indonesia mungkin sudah tahu tentang beberapa gunung besar di Indonesia yang meletus hebat pada masa lampau. Namun, tahukan Anda kalau jauh lebih lampau lagi masih ada gunung-gunung yang memiliki catatan sejarah mencengangkan.

Berikut ini InfoPendaki.com berikan top 5 supervolcano di Indonesia yang tercatat dalam sejarah dan sudah dibuktikan oleh para peneliti dunia.

Top 5 Supervolcano di Indonesia

No Gunung Lokasi Meletus Tahun
1 Toba Sumatera Utara 74.000 tahun yang lalu
2 Batur Bali 29.300 tahun yang lalu
3 Samalas (Rinjani) Lombok 1257 Masehi
4 Tambora NTB 1815 Masehi
5 Krakatau Selat Sunda 1883 Masehi

GUNUNG TOBA SUPERVOLCANO

Ada sebuah danau yang sangat luas di Pulau Sumatera yakni Danau Toba. Pemantauan dari atas, danau ini dikelilingi oleh gundukan tanah yang berbentuk tebing-tebing. Sehingga bisa disimpulkan bahwa dulunya wilayah danau ini mungkin adalah sebuah daratan yang menyatu. Yang entah mengapa berubah menjadi sebuah danau yang sangat luas.

Gregory A. Zielinski, seorang peneliti dari Universitas Massachusetts, pada tahun 1990-an telah menemukan 2 – 4 megaton Asam belerang yang terperangkap di dalam inti daratan es Greenland. Zielinski mengemukakan bahwa umur senyawa asam belerang tersebut adalah sekitar 70.000-75.000 tahun. Zielinski juga menyatakan bahwa dengan jumlah asam belerang sebanyak itu setara dengan 25 kali tingkat populasi yang disebabkan oleh seluruh perusahaan industri di bumi pada zaman sekarang.

Temuan Zielinski tersebut hanya sebagian kecil dari yang sebenarnya. Itu artinya masih banyak asam belerang di belahan bumi lain yang belum ditemukan. Dia memperkirakan kondisi bumi saat itu diselimuti asam belerang beracun selama 6 tahun.

Kondisi seperti itu jika terjadi pada masa sekarang, akan susah dibayangkan jika ada manusia yang berhasil hidup. Lantas apakah yang terjadi pada saat lampau di 70.000 tahun silam?

Kemudian, peneliti lain bernama Michael Rampino dari Universitas New York juga menemukan temuan yang sejalan dengan temuan Zielinski, yakni dia menemukan kenyataan bahwa terjadi penurunan suhu yang sangat drastis secara tiba-tiba pada masa lampau dengan perkiraan tahun yang serupa yakni sekitar 70.000-an tahun yang lampau.

Penurunan suhu pada lautan secara tiba-tiba mencapai 5 derajat celcius. Kondisi seperti itu diibaratkan memutar tombol panas menjadi dingin hanya dalam semalam.

Peneliti selanjutnya, John Westgate pada 1990-an dalam penelitiannya yang dilakukan bertahun-tahun akhirnya mencapai kesimpulan. Ia tengah mencari tahu sumber dari sebuah abu vulkanik berumur sangat tua (berumur sekitar 70.000 tahun) yang ditemukannya. Setelah mencari-cari selama bertahun-tahun, ditemukanlah sampel yang sama dari abu vulkanik tersebut yang berasal dari wilayah Sumatera Utara, Indonesia, tepatnya di kawasan Danau Toba.

74.000 tahun silam, sebuah gunung raksasa meletus sangat hebat dengan menyemburkan sedikitnya 2.800 km kubik magma ke udara dan menghancurkan bentuk gunung itu sendiri menjadi sebuah kaldera yang sangat luas, yang saat ini dikenal dengan sebuah danau, Danau Toba. Letusan maha dahsyat tersebut menyemburkan abu, awan panas, sekaligus belerang ke penjuru bumi dan membuat kekacauan iklim selama bertahun-tahun. Danau Toba yang merupakan bentukan dari letusan tersebut menjadi kawasan yang sangat eksotis dan menjadi tempat tinggal masyarakat bersuku Batak. Hingga bertahun-tahun kemudian kawasan Danau Toba tersebut berubah menjadi kawasan wisata alam yang sangat ramai. Danau Toba memiliki luas 100 x 30 km dan kedalaman mencapai 1000 meter. Sumber: http://pendaki.id/gunung-toba-supervolcano/

Data yang tercatat dari letusan Gunung Toba

  • Terjadi 74.000 tahun yang lalu
  • Meletuskan sedikitnya 2.800 km kubik magma
  • Membentuk kaldera danau seluas 100 x 30 km dengan kedalaman 1000 meter
  • Volcanic Explosivity Index (VEI) = VEI 8

GUNUNG BATUR PURBA

Gunung Batur Purba adalah sebuah gunung raksasa di Pulau Bali. Ketinggiannya diperkirakan lebih dari 3000 mdpl. Terjadi letusan super dahsyat sebanyak dua kali yang mengubah drastis bentuk gunung dan berdampak besar terhadap bentuk wilayah sekitar.

Letusan pertama terjadi sekitar 29.300 tahun yang lalu dan memuntahkan abu vulkanik sebanyak 84 km kubik. Letusan tersebut menghancurkan ½ tubuh gunung dan membentuk sebuah kaldera raksasa dengan diameter 7,5 km dan dinding kaldera setinggi 400 meter.

Lalu, letusan kedua terjadi pada 20.150 tahun yang lalu. Letusan tersebut terjadi di dalam kaldera besar hasil letusan sebelumnya dan memuntahkan muatan vulkanik sebanyak 19 km kubik. Letusan kedua tersebut membentuk sebuah kaldera baru di dalam kaldera pertama.

Dinding kaldera baru terbentuk setinggi 200 meter. Berada di dalam kaldera kedua tersebut tumbuh sebuah gunung baru yang kini dinamakan sebagai Gunung Batur (yang sekarang), dan cekungan terendah di dalam kaldera kedua kemudian terisi air dan membentuk sebuan danau yang kini bernama Danau Batur. Jejak letusan pertama Gunung Batur Purba ditemukan di daerah Ubud dan daerah utara Denpasar. Sedangkan jejak letusan kedua ditemukan di Pura Kawi Gianyar.

Bagi masyarakat Hindu Bali, Gunung Batur Purba dianggap sebagai ibu dari Gunung Agung. Jika dilihat dari ketinggian, Gunung Agung seperti berada di pangkuan Gunung Batur Purba. Nama “Batur” sendiri berasal dari Bahasa Sanskerja “Bhattara” yang artinya “Tuan, Raja, Melindungi”. sumber: http://pendaki.id/gunung-batur-purba/

Data yang tercatat dari letusan Gunung Batur Purba

  • Terjadi sekitar 29.300 tahun yang lalu
  • Memuntahkan abu vulkanik sebanyak 84 km kubik
  • Kaldera raksasa dengan diameter 7,5 km dan dinding kaldera setinggi 400 meter
  • Volcanic Explosivity Index (VEI) = VEI 7

GUNUNG SAMALAS (RINJANI)

Gunung Samalas adalah sebuah gunung raksasa dengan ketinggian mencapai 4200 mdpl. Gunung ini adalah asal usul dari Gunung Rinjani yang sekarang.

Catatan kuno “Babad Lombok” mengisahkan tentang letusan superdahsyat Gunung Samalas yang terjadi 7 abad silam yakni tahun 1257. Nama “Samalas” juga disebutkan dalam catatan tersebut. Selain bersumber dari catatan kuno, penelitian (dilakukan oleh Frank Lavigne dari Perancis dkk) juga menemukan bukti kuat berupa jejak-jejak abu vulkanik berumur tua yang tersebar di berbagai wilayah di Lombok:

  • Pantai Luk Lombok, sekitar 25 km barat laut dari Gunung Rinjani, terdapat tebing setinggi 35 m yang terbentuk dari tumpukan abu vulkanik.
  • Desa Sedau, sekitar 22 km barat daya dari Rinjani, terdapat dinding tebal setinggi 20 m yang merupakan endapan batuan awan panas
  • 30 km dari Rinjani ke arah tenggara, ditemukan pula endapan abu vulkanik setinggi 30 m
  • Ada endapan abu vulkani di es kutub yang diprediksi terjadi di tahun 1258

Letusan yang terjadi pada 1257 diperkirakan memuntahkan abu vulkanik setinggi 34 – 52 km. Awan panas membentuk seperti payung dan menutupi keseluruhan Pulau Lombok dan sebagian Bali. Letusan tersebut menciptakan gelombang tsunami dahsyat meski lokasi gunung berada jauh dari perairan. Pulau Lombok diselimuti abu setebal 20-90 cm, Pulau Bali setebal 10 cm, dan Pulau Jawa setebal 1-5 cm. Letusan Gunung Samalas mencapai level 7 VEI dan setara dengan 39.000 megaton TNT atau setara 1,95 juta bom nuklir yang menjatuhi Hiroshima-Nagasaki. Massa total magma yang dimuntahkan adalah sebesar 99 mil ton. Sebanyak 55 juta ton gas sulfur dan 370 juta ton asam sulfat menyebar ke seluruh dunia. Suhu bumi turun drastis dan bertahan dalam jangka waktu yang lama. Kerajaan Pamatan di Lombok hancur dan terjadi kematian massal di Lombok, Bali, dan NTB.

Jika dibandingkan dengan letusan gunung superdahsyat lainnya yang ada di Indonesia, yakni Gunung Krakatau dan Gunung Tambora, maka letusan Gunung Samalas adalah lebih dahsyat. Volume awan panas dari letusan Samalas 2 kali lebih besar dari Tambora. Sebanyak 40 km kubik magma sepadat batuan diletuskan. Gunung Krakatau saja hanya 20 km kubik, dan Tambora 33 km kubik. Letusan Gunung Samalas adalah yang terdahsyat dalam 7000 tahun terakhir pada masa itu. Setengah bentuk dari Gunung Samalas hancur dan menyisakan geronggongan yang sekarang berubah menjadi kaldera raksasa dan di dalamnya menjadi sebuah danau bernama Segara Anak.

Penelitian yang dilakukan berkaitan dengan letusan Gunung Samalas masih mengungkapkan berupa dampak minimal. Berbagai aspek penelitian lain seperti meneliti ke dasar lautan dan sebagainya belum dilakukan, dengan kata lain dampak dari letusan Samalas diperkirakan masih bisa lebih besar lagi. sumber: http://pendaki.id/gunung-purba-samalas-asal-usul-segara-anak/

Data yang tercatat dari letusan Gunung Samalas

  • Diperkirakan terjadi pada tahun 1257 Masehi
  • Sebanyak 40 km kubik magma sepadat batuan diletuskan
  • Dampaknya adalah bencana kelaparan global akibat rusaknya lahan pertanian dan perkebunan terutama di benua Eropa
  • Spekulasi mengarahkan pada invansi bangsa Mongol ke Benua Eropa dan Arab di bawah kepemimpinan Hulagu Khan dikarenakan bencana global Samalas
  • Ada makam massal di Inggris diduga korban bencana global dari Gunung Samalas
  • Secara keseluruhan, kedahsyatan letusan Gunung Samalas adalah 8 kali letusan Krakatau, dan 2 kali letusan Tambora.
  • Volcanic Explosivity Index (VEI) = VEI 7

GUNUNG TAMBORA

Gunung Tambora di NTB memiliki kaldera terbesar di Indonesia yakni dengan luas sekitar 2800 hektar dan kedalaman mencapai 600-700 meter. Gunung Tambora merupakan gunung api dengan sejarah letusan superdahsyat yang bisa diingat manusia.

Satu-satunya letusan terhebat yang terjadi pada era mulainya peradaban manusia modern adalah letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883, namun letusan Krakatau kalah telak dari letusan Tambora. Letusan Tambora diperkirakan 4 kali lebih dahsyat dari letusan Krakatau. Letusan Tambora sendiri terjadi pada 1815 terpaut 68 tahun dari letusan Krakatau.

Gunung Tambora Purba memiliki ketinggian sekitar 4.300 mdpl dan berbentuk strato. Tambora diteliti telah meletus sebanyak 3 kali jauh sebelum Masehi dan bertahap merubah kontur dari Gunung Tambora itu sendiri. Kemudian tidak pernah meletus kembali dalam jangka waktu yang sangat lama. Hingga pada 1812 Tambora mulai menggeliat dan terdengar gemuruh namun tidak meletus. Puncaknya yakni April 1815, Gunung Tambora meletus dahsyat dengan kekuatan mencapai 7 VEI. Letusannya terdengar hingga Sumatera yang jaraknya mencapai 2600 km. Masyarakat di Jawa bahkan mendengar letusan Tambora seperti bunyi meriam. Abu vulkanik tersebar sejauh 1300 km mencapai Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi.

Kegelapan total tersebar sejauh 600 km selama dua hari. Aliran piroklastik berupa batu panas bercampur magma tersebar sejauh 20 km. Pohon-pohon tumbang tersebar di lautan hingga membentuk koloni sepanjang 5 km. Gelombang tsunami setinggi 2-4 meter mencapai Jawa Timur dan Maluku. Asap vulkanik membumbung setinggi 43 km mencapai lapisan stratosfer paling atas. Kematian jiwa mencapai angka 71.000 dimana 11-12 ribu adalah kematian langsung. Jumlah tersebut berpotensi lebih besar mengingat pada waktu itu pengukuran dampak bencana belum semaju sekarang. Dampak global yang dirasakan dunia adalah terjadi di tahun berikutnya yakni 1816. Tahun 1816 dikenal sebagai “A Year without Summer” atau “Tahun Tanpa Musim Panas”.

Letusan Tambora juga dijuluki sebagai “Pompeii dari Timur” (Pompeii adalah sebuah peradaban Romawi kuno yang lenyap seketika diterjang lahar dari letusan Gunung Api Vesuvius). Letusan Tambora juga melenyapkan sebuah peradaban, yakni Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat. Sebuah penelitian menemukan sisa-sisa perabotan dari sebuah peradaban di kaki Gunung Tambora yang jaraknya sejauh 25 km. Beberapa juga ditemukan kerangka manusia. Temuan-temuan tersebut mengemukakan kesimpulan bahwa ada sebuah peradaban yang lenyap berbarengan dengan letusan dahsyat Gunung Tambora. sumber: http://pendaki.id/gunung-tambora-2-850-mdpl/

Data yang tercatat dari letusan Gunung Tambora

  • Terjadi tahun 1815 Masehi
  • Kaldera raksasa seluas 200 km
  • Penyebab utama tragedi “A Year without Summer”
  • Volcanic Explosivity Index (VEI) = VEI 7

GUNUNG KRAKATAU

Mei 1883, sebuah gunung api di Selat Sunda bergejolak dan mengalami erupsi kecil. Banyak orang yang ingin melihat kejadian tersebut. Mereka menikmati letupan-letupan lava yang tersembur kecil dari puncak gunung tersebut yang bernama Krakatau. Bahkan sampai dibuat sebuah festival guna menikmati pemandangan tersebut. Namun, mereka tidak mengetahui akan ada bencana maha dahsyat yang akan datang beberapa waktu ke depan.

Tanggal 26 Agustus 1883, Gunung Krakatau meletus lebih besar dari sebelum-sebelumnya yakni menyemburkan abu vulkanik setinggi 24 km. Namun pada titik ini belum memengaruhi kondisi alam dan sosial masyarakat.

Akhirnya, 27 Agustus 1883 pukul 10 pagi, Gunung Krakatau meletus hingga membuat orang tuli. Letusannya terdengar hingga wilayah Perth di Benua Australia bagian barat daya, sampai Pulau Rodrigues dekat Afrika. Gunung ini juga membawa serta gelombang tsunami setinggi 40 meter yang menghancurkan wilayah Sumatera pesisir selatan dan Banten. Bahkan gelombang tsunami kecil-nya sampai di wilayah perairan Hawaii yang jaraknya sejauh 75.000 km. Awan panas dan debu vulkanik membumbung setinggi 80 km dan turut menghancurkan segala yang ada di bawahnya, sekaligus membuat matahari tak terlihat keesokan harinya. Abu vulkanik bahkan sampai di Amerika dan Eropa.

Letusan Krakatau 1883 menjadi tragedi alam terburuk pada era manusia modern, dimana kejadian tersebut telah tercatat secara baik. Bencana tersebut menewaskan sekitar 36.000 jiwa, tsunami yang terjadi meratakan semua wilayah di pesisir Sumatera bagian selatan dan pesisir Banten.

Letusan Krakatau telah memusnahkan peradaban Arabia Selatan, Kota Maya, Tika, dan Nazca. Manusia yang berada di dekatnya, bahkan pulau-pulau kecil akan tersapu tsunami dan terbakar awan panas.

Letusan Krakatau memuntahkan muatan berupa debu dan batu vulkanik sebesar 1 juta ton per detik dan membuat temperatur global turun selama 10-20 tahun setelahnya. Letusannya itu pun terhitung sama dengan 21.574 kali letusan bom atom Hiroshima-Nagasaki atau 3 kali kekuatan bom hidrogen Rusia, Tsar Bomba. Setelah letusan itu berakhir, tiga pulau sebelumnya menjadi tidak utuh. Menyisakan Pulau Rakata (Separo), Pulau Sertung, dan Pulau Panjang (Rakata Kecil).

Empat puluh tahun berselang, 1927 muncul sebuah gundukan yang kemudian menjadi sebuah gunung baru bernama “Anak Krakatau”. Gunung baru ini bertambah tinggi sekitar 6 meter dan lebar 12 meter per tahunnya. Hal ini disebabkan adanya aktivitas lava di dalamnya yang mendorong ke atas.

Anak Krakatau inilah yang diramalkan akan kembali meletus seperti ibunya beratus hingga beribu tahun ke depan. Letusan Krakatau diperingati dengan sebuah event “Krakatau” di Lampung. sumber: http://pendaki.id/supervolcano-krakatoa-gunung-krakatau-purba/

Data yang tercatat dari letusan Gunung Krakatau

  • Terjadi pada tahun 1883
  • Menyebabkan tsunami setinggi 40 meter
  • Volcanic Explosivity Index (VEI) = VEI 6

No comment for Top 5 Supervolcano di Indonesia yang Tercatat dalam Sejarah

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Related Post to Top 5 Supervolcano di Indonesia yang Tercatat dalam Sejarah

GUNUNG UNTUK PEMULA

50+ GUNUNG UNTUK PEMULA DI PULAU JAWA LENGKAP

Posted at 05/02/2020

Beberapa pendaki yang belum pernah mendaki gunung sebelumnya, kerap kali meminta info gunung untuk pemula. Hmm… tapi sebelum kita mengulas lebih lanjut, mari ketahui... Read More

Ini Dia Gunung-Gunung Terluar Indonesia

Posted at 05/02/2020

Jika telah mengenal pulau-pulau terluar Indonesia, tapi kalian sudah tahu gunung-gunung terluar Indonesia? Indonesia merupakan negara kepulauan dan juga memiliki banyak sekali gunung. Dari... Read More

desa tertinggi di indonesia

12 DESA TERTINGGI DI INDONESIA

Posted at 04/02/2020

Kira-kira desa tertinggi di Indonesia ada dimana? Kalau saja di Pegunungan Jaya Wijaya terdapat desa yang tercantum di BPS statistik nasional, mungkin wilayah itu... Read More

Ada Lho..Satu Gunung Berada di Empat Provinsi Sekaligus di Indonesia

Posted at 04/02/2020

Ada lho… satu gunung berada di empat provinsi sekaligus. Tahu tidak kalau beberapa gunung di Indonesia terletak di banyak wilayah perbatasan? Ada gunung yang... Read More

kaldera terbesar

8 GUNUNG DENGAN KALDERA TERBESAR DI INDONESIA

Posted at 03/02/2020

Gunung dengan kaldera terbesar di Indonesia tersebar di berbagai wilayah. Mulai dari Sumatera, Jawa, dan juga NTB. Kira-kira apa saja gunung tersebut? Nah, sebelum... Read More